SELAMAT DATANG DI DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN SEMARANG

KOLEKSI BUKU BARU

Sales Sukses : Menjual apa saja, Kapan saja, Dimana Saja
Aris Marwanto
Mistik Kejawen
Suwardi Endraswara
21 Cara Membaca Kepribadian Orang Lain : Cara Cepat Mengetahui Kepribadian Orang Lain
Mulianti Widanarti
Easy Weight Loss : Cara Mudah Turunkan Berat Badan
Rifki Fauziah
693 Km Jejak Gerilya Sudirman
Ayi Jufridar
Sung Kyun Kwan : Karena Cinta Tidak Buta
Jung Eun Gwol
Percy Jackson & The Olympians #5 : The Last Olympian
Rick Riordan
Percy Jackson & The Olympians #4 : The Battle of The Labyrinth
Rick Riordan
Percy Jackson & The Olympians #1 : The Lightning Thief
Rick Riordan
Tasbih Cinta di Langit Moskow
Indah El Hafidz
Percy Jackson & The Olympians #3 : The Titan Curse
Rick Riordan
Percy Jackson & The Olympians #2 : The Sea of Monters Rick Riordan
Rick Riordan
Cinta Putih Di Bumi Papua
Dzikry el Han
Halaman Terakhir : Sebuah Novel Tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Yudhi Herwibowo
Sang Musafir : Novel Perjalanan Spiritual Ibn Arabi
Sadik Yalsizucanlar
Dear Life
Alice Munro
The Mark of Athena
Rick Riordan
Jalan Kematian Syekh Situ Jenar
Prof. Dr. Abdul Mulkan
Zaman Edan : Ora Edan Ora Keduman
Purwadi, M.Hum.
Zaman Kalasura
Agus Wahyudi

Login Form

Terhubung

  

Danau Rawa Pening adalah danau pegunungan yang berada di Ambarawa. Kini, danau Rawa Pening menjadi salah satu tujuan wisata di wilayah Semarang. Di sebelah barat dekat danau Rawa Pening terdapat benteng VOC yang disebut Fort Willem I. Pada masa doeloe, rawa besar ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan benteng besar ini. Fort Willem I diperkuat pada tahun 1869 sehubungan dengan booming kopi dan beroperasinya jalur kereta api pertama (Semarang-Ambarawa). Namun entah darimana asal muasalnya pada masa kini, adakalanya, Rawa Pening dikaitkan dengan suatu legenda. Peta 1897: Fort Willem dan Rawa Pening

Danau Rawa Pening luasnya sekitar 2.600 Ha. Ada sebanyak empat kecamatan yang memiliki akses ke danau: Ambarawa, Banyubiru, Bawen dan Tuntang. Danau Rawa Pening berada di cekungan tiga gunung: Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Menurut sebagian warga setempat, danau Rawa Pening memiliki kisah sendiri (legenda) yang diceritakan secara turun temurun. Peta 1897: Fort Willem dan Rawa Pening
Kejadian Rawa Pening 1838
Keberadaan Ambarawa kali pertama dilaporkan di surat kabar pada tahun 1829. Disebutkan oleh Residen Semarang, P Le Clereq bahwa pada tanggal 20 September 1829 di pasar Kaliwoengoe en Ambarawa akan ada pertandingan adu ternak di rumah Bupati yang dimulai pada pukul 10 pagi (lihat Javasche courant, 15-09-1829). Pengumuman ini mengindikasikan bahwa Ambarawa adalah ibukota kabupaten (afdeeling) yang cukup ramai. Jumlah desa di Afdeeling Ambarawa sebanyak 119 buah (berdasarkan Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indi, 1875).
Dalam Peta 1705 Ambarawa sudah terpetakan sebagai jalur militer VOC dari Semarang ke Cartasoera. Dengan kata lain sebelum pebgumuman di surat kabar tersebut, Ambarawa sudah dikenal oleh pihak asing lebih dari satu abad.
Algemeen Handelsblad. 13-10-1838
Sembilan tahun setelah pengumuman di surat kabar, pada tahun 1938 terjadi suatu kejadian di Ambarawa. Dilaporkan Algemeen Handelsblad. 13-10-1838 bahwa terjadi semburan air dari dalam tanah yang menyebabkan Rawa Pening meluap. Akibat luapan ini dusun Rawa Siwel tenggelam. Tidak terdapat korban jiwa dan ternak yang hilang juga tidak terlalu signifikan.
Peta Rawa Pening (1855)
Tidak diketahui secara jelas seberapa besar semburan air ini. Dari laporan ini menenggelamkan sebuah dusun tentu saja cukup besar. Namun demikian, tidak diketahui seberapa luas luapan itu. Sudah barang tentu luapan itu tidak seluas danau Rawa Pening yang sekarang. Mengapa? Pada tahun 1850 muncul usulan untuk membuat bendungan di Toentang yang memanfaatkan air di Rawa Penung (Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 17-01-1850). Pemerintah telah memberi wewenang untuk pengairan yang terhubung dengan pembangunan bendungan sungai Toentang yang jumlahnya sebesar ƒ391.306 (Leydse courant, 16-04-1852). Pada tahun 1862 air benar-benar tinggi di Rawa Pening yang menyebabkan debit Kali Toentang menjadi besar lalu kemudian menerjang sejumlah bendungan di hilir yang mengakibatkan banjir besar di Semarang (Bataviaasch handelsblad, 08-03-1862).
Java-bode, 04-11-1865
Berita tentang Rawa Pening baru muncul pada tahun 1865 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-11-1865). Dilaporkan bahwa pada pagi hari tanggal 22 Oktober pukul 9.16 terjadi guncangan gempa di Ambarawa dan pada keesokan paginya tanggal 23 pukul 2.45 guncangan gempa terjadi lagi pada arah normal. Sementara di Banjoebiroe, orientasi ini lebih ke arah selatan daripada sebelumnya. Guncangan ini diikuti oleh gemuruh di bawah tanah yang tidak berat tetapi berlangsung terus-menerus, yang berulang kali. Rawa Pening tampak dalam kondisi normal.
Nama-nama desa di Afd, Ambarawa, 1875
Pada tahun 1877 terjadi banjir bandang secara tiba-tiba pada tanggal 1 Maret di Ambarawa. Angin kencang dan hujan deras selama lima hari sebelum kejadian diduga menjadi peringatan. Pada pagi hari kejadian hujan semakin deras dan kali Panjang meluap. Jembatan lengkung besar di perkampungan Tionghoa ambruk dan sebuah rumah lalu terseret ke arah jembatan besar Kali Panjang. Debit air yang semakin meninggi akibat terbendung di jembatan akhirnya pilar tengah jembatan lenyap yang menyebabkan sebanyak 70 rumah di hilir terseret arus di sepanjang kali Panjang di kampong Warong Lanang. Terdapat 73 korban jiwa yang mana kemarin ditemukan 23 kebanyak wanita dan anak-anak. Sisanya diduga hanyut dan hilang di dasar Rawa Pening. Residen dan Insinur BB telah datang meninjau selanjutnya Insinyur BB dan Luitenent der Chineese pergi ke Rawa pening untuk memeriksa situasi dan kondisi rawa (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-03-1877).
Terjadinya luapan/semburan air di Rawa Pening dan banjir bandang di Kali Panjang adalah dua hal (kejadian) yang berbeda. Hanya saja air bah/banjir bandang memang menuju rawa (Rawa Pening). Kejadian ini terus berulang, air dalam rawa dapat meninggi sewaktu-waktu sehingga mengakibatkan luapannya jatuh ke Kali Toentang yang pada gilirannya membanjiri Kota Semarang. Fungsi reservoir Rawa Pening berjalan baik tetapi luapan air yang bersumber dari banjir bandang dari Kali Panjang tidak menyelesaikan masalah bagi Kota Semarang. Sebagai konsekuensinya, muncul ide pembangunan kanal timur Semarang. Lihat juga dalam blog ini: Sejarah Semarang (6): Banjir Kanal Barat Semarang 1879; Banjir Kota yang Tidak Berkesudahan Picu Bangun Kanal Timur.
Fort Willem I
Benteng (fort) di Ambarawa disebut Fort Willem I. Benteng ini dibangun tahun 1838 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1884). Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pangeran Hendrik. Benteng ini diberi nama Willem I untuk menghormati kakek Pangeran Hendrik. Benteng ini terdiri dari empat bastion yang di dalamnya terdapat barak tentara, penginapan para perwira, rumah sakit dan bangunan lainnya. Di sebelah barat benteng terdapat pemukiman dan di sebelah timur sebuah rawa besar yang ditutupi oleh tanaman air yang disebut Rawa Pening.
Rawa Pening, 1929
Lembah ini memiliki bentuk bulan sabit, sisi cembung yang menghadap utara ke timur; memiliki panjang 8 pal, dan lebar 4 pal dan terbagi oleh hampir tiga tumpukan dari utara ke selatan, dari timur ke barat sekitar 2 tumpukan rawa lebar dibagi di bagian timur dan barat, yang hanya terhubung melalui garis-garis sempit ke utara dan selatan rawa, yang bekas membawa kereta api. Lembah ini tertutup antara tulang rusuk yang menghubungkan Merbabu dan Telomoja dengan Ugaran. Semua perairan di lereng sekitarnya, yang perlahan-lahan turun ke lembah, berkumpul di Rawa Pening (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1884).
Fort Willem I adalah benteng yang diperkuat pada tahun 1838. Beberapa tahun sebelumnya (dalam Perang Jawa/Diponegoro 1825-1830) benteng ini adalah poros pertahanan Belanda di sekitar wilayah. Poros pertahanan sekunder berada di Toentang untuk wilayah timur (Demak) dan wilayah selatan (Soerakarta). Bagaimana strategi perang Belanda di wilayah ini dideskripsikan secara lengkap dan detai dalam buku: ‘De verdediging van Nederlandsch Indie, gevolgd door eene proeve van een stelsel van verdediging voor onze bezittingen in den Indischen Archipel’, 1863.
Kejadian Di Tengah Danau Rawa Pening 1885
Sebagian besar warga di sekitar Rawa Pening tidak ingat lagi kejadian Rawa Pening 1838, suatu kejadian yang aneh di lokasi Rawa Pening. Tentu saja mungkin warga tidak mengetahui bahwa pada tahun yang sama dilakukan peletakan batu pertama benteng oleh Pengeran Hendrik di Ambarawa dekat danau yang dikenal kemudian benteng Fort Willem I. Pada tahun 1885 terjadi lagi kejadian aneh di lokasi Rawa Pening. Kejadian apakah itu?
Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885
Dalam sebuah berita yang dikutip Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885, Insinyur Stoop pada tanggal 2 Maret lalu tidak perlu dikhawatirkan tentang gunung berapi, Gunung Merapi di Jawa Tengah. Tidak ada ada perubahan yang terjadi sampai saat ini. Sementara Residen Probolinggi melaporkan tanggal 12 Meret ini gunung berapi, Gunung Lamorgan di Proboünggo terdengar suara gemuruh yang mana pasir dan batu telah dikeluarkan dari kawah gunung, tanpa menyebabkan kerusakan.
Mengacu pada berita tersebut, Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885 mengabarkan lebih lanjut telah terjadi fenomena aneh (lagi) di Rawa Pening, dekat Ambarawa. Disebutkan di dalam rawa sebuah pulau terbentuk pada awal bulan, setelah sebelumnya terdengar suara berisik diamati berasal dari tengah rawa. Terdengarnya suara berisik (gemuruh) di rawa dan terbentuknya pulau sebagaimana dikutip Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885 adalah sebuah fenomena tetapi bukanlah hal yang baru, karena disebutkan Jung Huhn telah memberi penjelasan tentang fenomena semacam itu pada tahun 1838. Insinyur pertambangan Stoop telah memeriksa di dalam rawa bahwa ditemukan suatu proses pembusukan tanaman dalam jumlah besar di dalam tanah yang memberikan perkembangan kenaikan karbon dioksida di dalam tanah yang tidak mampu dilepaskan ke udara sehingga menimbulkan pembekakan di dalam tanah di dasar rawa lalu proses alam ini mampu mengangkat lapisan tanah atas, sampai akhirnya tanah ini muncul ke permukaan rawa yang mana kenaikan permukaan tanah tersebut diatasanya diselimuti oleh lapisan tanah gambut semi cair yang cukup tebal.
Pembentukan pulau di tengah Rawa Pening pada tahun 1885 ini telah menjelaskan fenomena yang terjadi pada tahun 1838. Pada kejadian tahun 1838 diduga telah terjadi pembentukan pulau di tengah rawa yang mana disebut telah terjadi semburan air rawa yang mengakibatkan luapan air sehingga sebuah dusun teenggelam. Ini semacam proses alamiah yang mirip tsunami kecil di tengah rawa (bukan di tengah lautan). Jung Huhn, yang menjelaskan ini adalah seorang Jerman ahli geologi (geolog) terkenal yang memulai karir atas penugasan Gubernur Jenderal Piter Merkus sebagai pemimpin ekspedisi pemetaan geologi dan botani di Tanah Batak pada tahun 1840. Setelah selesai tugas di Tanah Batak, Jung Huhn ditugaskan untuk melakukan pemetaan gunung di Jawa. Terakhir, Jung Huhn meneliti teh dan kini di Lembang (sebagai awal perkebunan kina di Preanger). Jung Huhn meninggal dan dimakamkan di Lembang tahun 1865.
Dengan demikian, telah terjadi dua kali fenomena yang dilaporkan tentang kejadian alam yang benar-benar terjadi di Rawa Pening Ambarawa. Besar kemungkinan kejadian-kejadian di Rawa Pening merupakan bagian dari rangkaian kejadian alam di Jawa. Di satu sisi telah terjadi proses kimia tanah di dalam tanah bawah rawa dan di sisi lalin terjadi proses fisika gempa di sekitar Rawa Pening (yang tidak jauh dari Gunung Merapi). Gempa bumi di Jawa jauh sebelum ini telah terjadi beberapa kali. Gempa bumi pertama dicatat tanggal 13 Februari 1684. Selanjutnya, terjadi gempa bumi pada 4 Januari 1699, 25 Januari 1769, 10 Mei 1772 dan disusul pada tanggal 22 Januari 1775. Gempa bumi berikutnya pada tanggal 19 Maret 1805 (lihat Almanak 1816). Pada masa transisi dari Inggris ke Belanda tahun 1815 terjadi kembali gempa bumi beruntun, yakni: tanggal 10 April 1815 lalu kesesokan harinya tanggal 11 April dan empat hari kemudian terjadi lagi tepatmya tangga; 15 April 1815. Gempa bumi tahun 1834 terbilang gempa bumi terbesar yang terjadi di Batavia. Gempa bumi ini tercatat telah menghancurkan Istana Buitenzorg. Padahal istana ini merupakan salah satu bangunan yang dibuat kokoh dan tahan lama karena tempat kediaman Gubernur Jenderal.
Gempa Bumi 1834, Istana Buitenzorg Hancur; Sungai Ciliwung di Batavia Makin Dangkal, Kanal Barat Dibangun 1918; Sejarah Kota Padang : Riwayat Banjir di Kota Padang, Dari Tsunami hingga Banjir Kanal (Banda Bakali); Sejarah Kota Padang : Daftar Panjang Gempa di Kota Padang; Tercatat Sejak 1797 (Tsunami) dan Gempa Besar 1926 (Bencana); Sejarah Semarang : Banjir Kanal Barat Semarang 1879; Banjir Kota yang Tidak Berkesudahan Picu Bangun Kanal Timur; Sejarah Bandung : Banjir Bandang Sudah Dari Dulu; Situ Aksan ‘Meniru’ Situ di Depok; Sejarah Kota Surabaya : Planologi Kota Surabaya Tempo Doeloe; Kanalisasi dan Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak.
Secara alamiah Rawa Pening adalah rawa yang asalnya dari proses vulkanik (lihat Abraham Jacob Aa. 1847 ‘Aardrijkskundig woordenboek der Nederlanden’). Sedangkan kejadian yang disebut aneh di tengah danau Rawa Pening adalah proses fermentasi (lihat Soerabaijasch handelsblad, 09-05-1885). Air di rawa ini sebagian besar berasal dari Kali Pandjang. Air rawa ini kemudian jatuh melalui sungai Toentang menuju laut di Semarang. Kali Pandjang dilaporkan telah sering memakan korban, sementara Kali Toentang belum pernah dilaporkan menimbulkan masalah. Satu hal, fakta-fakta alam yang pernah terjadi di tengah danau Rawa Pening sudah masuk dalam 'dunia akademik' pada era kolonial Belanda tempo doeloe, sedangkan hal lain tentang cerita mitologi atau legenda yang muncul pada masa kini haruslah ditempatkan sebagau 'dunia lain'.
Sejak era VOC/Belanda tahun 1704 sisi timur danau Rawa Pening adalah jalur utama antara Semarang dan Cartasoera (melalui Oengaran, Ambarawa dan Salatiga). Oerang Eropa pertama ke wilayah ini adalah tim ekspedisi yang dipimpin oleh Mejoor Jacob Cooper tahun 1695. Wilayah Ambarawa 1730 sudah dilakukan introduksi kopi setelah sukses tahun 1714 di Semarang. Pada tahun 1742 kolaborasi Cina dan penduduk pribumi Jawa melakukan pemberontakan terhadap VOC dan menduduki benteng-benteng termasuk Fort Willem I. Namun situasi dapat dipulihkan sehubungan adanya kerjasama VOC dengan Mataram. Pada tahun 1745 kraton Cartasoera dipindahkan ke arah timur yang kemudian disebut Soeracarta (Solo). Kerjasama ini kemudian telah menimbulkan reaksi dari sejumlah pangeran sehingga muncul pemisahan Mataram menjadi Soeracarta Adiningrat dan Ngajogjacarta Adiningrat (1755). Pada era kekuasaan Prancis sejak 1795 wilayah ini sepi dari aktivitas dari orang-orang Eropa. Pada era pemulaan Pemerintah Hindia Belanda (suksesi VOC/Belanda) wilayah ini terbuka kembali lagi bagi orang Eropa, terutama pada era Gubernur Jenderal Daendels sehubungan dengan pembangunan jalan utama (Groote weg) antara Batavia-Soerabaja via Semarang. Lagi-lagi kekuasaan berpindah kembali dari Belanda ke Inggris. Pada tahun 1812 Kraton Ngajogjacarta melakukan perlawanan terhadao Inggris, namun segera dapat dipulihkan. Pada tahun 1816 masa pendudukan Inggris berakhir dan kembali muncul Pemerintah Hindia Belanda. Pejabat Belanda yang ditempatkan bermula di Salatiga (Asisten Residen). Dua tahun kemudia pada tahun 1818 ditempatkan Residen di Soeracarta (Luitenan Colonel HG Nahuijs). Pada tahun 1820 Nahuijs melakukan ekspedisi bersama Merkus, Graaf dan Gilaavry yang dibantu 70 orang Jawa ke puncak gunung Merapi hingga ke bibir kawah. Pada tahun 1822 HG Nahuijs dipindahkan menjadi Residen Jogjacarta. Pada tanggal 31 Desember 1823 gunung Merapi meletus. Reaksi letusan gunung Merapi ini terasa sangat kuat di danau Rawa Pening. Pada tahun 1824 mulai muncul perselisihan antara HG Nahuijs dengan para pangeran yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1825 mulai terjadi perang yang baru berakhir tahun 1830. Setelah berakhir Perang Jawa (1825-1830) wilayah sekitar Rawa Pening kembali kondusif. Perkebunan-perkebunan besar mulai dirintis oleh para investor Eropa/Belanda utamanya perkebunan kopi dan tebu. Pada saat inilah secara bertahap benteng Fort Willem I ditingkatkan sehingga menjadi benteng utama di wilayah Semarang, Soeracarta dan Djocjocarta. Sejak ini pula kejadian-kejadian di sekitar Rawa Pening dilaporkan di surat kabar. Berita dari sekitar Rawa Pening semakin intens sejak terhubungnya jalur kerata api pertama antara Semarang dan Ambarawa via Kedongdjatie.
Itulah sejarah Rawa Pening, rawa besar yang sangat bening dari doeloe.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer.

Gatot  Subroto lahir di Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 10 Oktober 1907. Ia menamatkan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS setingkat SD) di Cilacap, dan pada 1928 ia mendaftarkan diri dalam pendidikan militer di Cader School Magelang, Jawa Tengah. Pada masa pendudukan Jepang, Gatot masuk dalam Pembela Tanah Air (Peta), setelah lulus mendapatkan pangkat Cudanco (komandan kompi dan ditugaskan di Banyumas).

Peran Gatot Subroto dalam Palagan Ambarawa:

Letkol Gatot dilibatkan Kolonel Sudirman dalam Pertempuran Ambarawa sebagai Kepala Siasat yang bertugas merebut Benteng Willem I. Disadari atau tidak usaha menguasai benteng tersebut, merupakan usaha yang cukup sulit sebab pasukannya banyak yang tidak terlatih dalam pendidikan militer formal, serta tidak memiliki pengalaman berperang dalam posisi berhadap-hadapan.

Pasca keberhasilannya menjalankan misi Pertempuran Ambarawa Gatot diangkat menjadi Panglima Divisi V Purwokerto dengan pangkat Kolonel. Hingga akhir hayatnya, Jenderal Gatot Subroto selalu menaruh perhatian pada pengembangan dan pendidikan calon-calon perwira militer, dalam satu wadah yang satu dan bersama-sama di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Gatot meninggal tidak lama sebelum ia pensiun dari Wakil KSAD pada 11 Juni 1962 di Jakarta, dan ia dimakamkan di Desa Mulyoharjo, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Pengunjung Online

114475
Hari iniHari ini50
KemarinKemarin76
Minggu iniMinggu ini452
Bulan iniBulan ini1178
Total PengunjungTotal Pengunjung114475

WEB LINK